Bicara soal makanan, tentu bicara soal
selera. Setiap orang punya selera masing-masing. Misalnya, ada yang makan bubur
harus diaduk dulu, ada juga yang sangat anti mengaduk bubur. Ada yang masak mie
instan tanpa meremukkan mie-nya terlebih dulu. Namun ada juga yang nggak sreg
kalau masak mie tanpa meremas-remukkan mienya sebelum memasukannya ke air
panas.
Soal jenis masakan
yang disuka pun, selera orang masing-masing. Ada yang sangat senang dengan
berbagai olahan sayur. Namun ada juga yang begitu suka dengan olahan daging.
Yang suka olahan daging pun beda-beda. Ada yang berselera makan semua jenis
daging hewan yang boleh dimakan. Tapi ada juga yang cuma mau makan daging ikan.
Cuma mau makan daging ayam. Cuma mau makan daging sapi. Dan cuma mau makan
daging kambing. Ada juga yang mau makan daging ikan dan ayam, tapi kurang bisa
menikmati makan daging sapi dan kambing. Nah, saya termasuk dalam kelompok yang
terakhir ini.
Waktu masih di
usia Taman Kanak-Kanak dulu, sebenarnya saya doyan-doyan saja makan daging sapi
dan kambing. Tapi begitu memasuki usia SD, ketika saya mulai rutin menonton
pemotongan hewan qurban setiap Idul Adha, selera saya terhadap daging jadi
berubah. Sebabnya, saya tak tega melihat sapi dan kambing dipotong. Kasihan.
Tentang tak mau
makan daging sapi dan kambing ini saya pernah berada di titik yang benar-benar
sama sekali tak mengonsumsi kedua jenis daging tersebut. Ada masa di mana
ketika membeli bakso, saya cuma ingin mangkok bakso saya berisi tahu, siomay
dan goreng saja, tanpa bola-bola bakso yang umumnya terbuat dari daging sapi.
Tapi kebiasaan membeli bakso cuma berisi tahu, siomay dan goreng ini tak
berlangsung lama. Saya berusaha sesegera mungkin berdamai dengan daging
sapi. Pelan-pelan saya membiasakan diri membeli bakso lengkap dengan
daging sapi giling yang sudah dibentuk menyerupai bola itu. Alhamdulilah,
strategi agar tak lagi "takut" makan daging sapi dengan cara makan
bakso ini sukses saya jalankan. Sekarang, kebiasaan saya yang kurang bisa
menikmati daging sapi bisa saya atasi. Kepada siapapun yang pertama kali
menemukan bakso, dimanapun Anda berada saat ini, saya mengucapkan banyak terima
kasih.
Urusan
dengan daging sapi sudah beres. Tapi tidak dengan daging kambing. Urusan
saya dengan daging kambing lebih panjang. Bukan hanya soal tidak tega melihat
kambing dipotong, tapi juga karena rasa dari daging kambing itu sendiri.
Utamanya soal baunya. Beberapa kali, saat Idul Adha tiba, dan teman-teman
mengajak nyate kambing ramai-ramai, seringkali saya hanya terlibat dalam proses
masaknya saja. Pas waktunya makan tiba, saya malah minggir. Nggak ikut
makan. Sebabnya ya itu tadi. Saya kurang bisa menikmati sate kambing.
Tapi semua berubah ketika pada suatu hari, saya menjadi tamu undangan aqiqah
dan mendapat nasi kotakan dari Aqiqah Nurul Hayat. Ketika membuka kotakan nasinya, mata saya
langsung tertuju pada satenya. Saya paham bahwa itu sate kambing. Tapi entah
mengapa ada rasa ingin mencoba. Saya tertarik dengan tampilannya, ingin tahu
rasanya sekaligus sebagai upaya “sembuh” dari kebiasaan kurang bisa menikmati
daging kambing.
Menjadi tamu
undangan aqiqah membuat saya berkesempatan mencoba sate kambing Aqiqah Nurul
Hayat. Gigitan pertama tak ada masalah. Berlanjut ke gigitan kedua. Satu tusuk
pertama tandas. Lanjut ke tusuk kedua. Saya mendapati rasa yang berbeda.
Satenya empuk. Bumbunya terasa. Dan yang paling utama adalah tidak bau prengus.
Sejak saat itu saya merasa masalah saya dengan daging kambing akan menemui
penyelesaiannya. Saya bersyukur menerima undangan aqiqah itu dan sempat
menghadirinya.
Teman-teman di manapun berada, kalau mau
mengadakan acara aqiqah dan mencari sajian yang pas untuk tamu undangan aqiqah
kalian, bisa langsung menghubungi Aqiqah
Nurul Hayat. Aqiqah Nurul Hayat ini termasuk aqiqah dengan harga terjangkau. Rasanya
pun oke. Cocok disajikan untuk tamu undangan aqiqah Anda. Cocok juga untuk Anda
yang sebelumnya kurang bisa menikmati olahan daging kambing. Cocok. Wes
talah, pokoknya cocok!

Comments
Post a Comment